“sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri” (Q.S. Ar-Ra’du : 13)
Ayat diatas menjadi penegasan bahwa Allah hanya kan membiarkan suatu kaum atau seseorang tetap dalam kondisi terburuk jika kaum/orang itu tidak berniat untuk menubah. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah mengutus seorang sahabatnya kepada seorang Pembesar Jahiliyah untuk mengajaknya kepada agama Allah. Berkatalah Pembesar itu “Apakah Rabb-mu, yang engkau ajak supaya aku menyembah-Nya itu dibuat dari besi, tembaga, parak atau emas?” Utusan itu kembali dan melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah saw, kemudian ia disuruh kembali mengajak Jahiliyah itu sampai tiga kali. Maka Allah mengirimkan petir untuk menyambarnya sampai terbakar.
Kisah di atas dapat dijadikan ikhtibar atau pelajaran bahwa Allah telah menyediakan sarana-sarana berubah potensi perbaikan diri, namun sarana-sarana itu tidak dapat digunakan tanpa disertai niat (tekad) untuk mengubah diri. Niat yang tulus akan dapat menuntun kita pada pelajaran ruhani menuju Allah swt, inilah pelajaran yang merupakan tahapan menuju perbaikan kualitas diri dari hari ke hari dan masa ke masa.
Kebaikan dalam diri kita dapat dilihat secara kasat mata melalui jasad dan akal, potensi jasad dan akal yang tempat lahiriah sebenarnya digerakkan oleh potensi hari yang bersih yang membuat perbuatan kita menjadi bernilai dan berkualitas.
Rasulullah saw bersabda : ”barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia adalah orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dialah orang yang merugi, dan barang siapa hari ini lebih jelek dari hari kemarin maka dia adalah orang yang tertipu.” Artinya, bisa ditegaskan bahwa hanya orang yang bisa berubah sajalah yang beruntung. Berubah ke arah yang lebih baik tentunya. Selain dari itu ia orang yang bakal merugi bahkan tertipu.
Oleh karena itu yang harus ada di benak kita adalah keinginan untuk terus berubah dan terus menjadi lebih baik. Hari ini harus bertambah ilmu, hari ini harus bertambah wawasan, hari ini harus bertambah kedewasaan dan hari ini harus bertambah kebajikan. Hendaknya berfikir bagaimana meningkatkan kemampuan diri, baik ilmu, keterampilan maupun amal kita.
Manajemen Pribadi Part II
Manajemen Pribadi Part II
Ustz. Daniatus Sa'adah

No comments:
Post a Comment